Analisis Sederhana pada Makan Bergizi Gratis
Oleh Mahasiswi Kesehatan Masyakarat : dr Meilvira Ahmad Mukadar
Dalam Debat panas calon Presiden Februari 2024 lalu yang digelar oleh KPU Pusat, Prabowo dan Gibran mengkampanyekan ‘Makan Siang Gratis’ yang kini kita kenal sebagai Makan Bergizi Gratis (MBG) .
Tujuan utama Prabowo Menginisiasi selain agar anak – anak bisa terbebas dari Stunting, juga untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia yang masih banyak sekali orang tua dengan penghasilan 1 juta sebulan dan sulit memberikan makan anak.
Berangkat dari tujuan itulah sejak dinobatkan sebagai Presiden terpilih, hal pertama yang langsung Prabowo lakukan adalah membentuk Instansi Baru yang diberi nama BGN atau Badan Gizi Nasional dengan harapan MBG bisa berjalan sesuai janji yang sudah Ia dan Wakil Presidennya sering suarakan selama kampanye lalu.
Pada awalnya MBG mendapat cibiran yang sangat panas karena banyak sekali pemangkasan dana di semua Instansi Pemerintah dari pusat hingga daerah, hanya agar dananya bisa dialokasikan untuk MBG.
Tidak sedikit karyawan TVRI dan RRI bahkan di-PHK yang walaupum belakangan mereka batal di-PHK, mengingat ingin memberantas kemiskinan di Indonesia, orang tua seharusnya memang diberi pekerjaan maka terjamin makan pagi, siang dan malam anak mereka, bukan hanya makan siang di sekolah.
Bahkan dalam sebuah rapat Kementrian Terkait, tersebar sebuah foto materi powerpoint yang menuliskan bahwa pendidikan hanya penunjang, sementara MBG adalah tujuan utama.
Artinya Prabowo sangat fokus dan ambisius dalam menggerakkan MBG sebagai janji yang akan Ia tepati paling awal sebagaimana yang ia kemukakan dalam kampanye.
Hingga November 2025 ini, Daftar Penerima Manfaat MBG sudah mencapai 40 juta siswa-siswi dan Ibu Hamil.
Sebagai kabupaten yang paling lambat menerima manfaat MBG, keuntungan yang bisa Kabupaten Buru dapatkan adalah banyak sekali SWOT yang bisa kita pelajari dari dapur – dapur daerah lain di Indonesia yang beberapa bulan ke belakang didapati banyak sekali Trouble, entah itu Human Error atau juga salah pada sistem, seperti 11.000 orang yang keracunan sejak awal tahun hingga Oktober 2025. Atau Ahli Gizi yang literally bukan Ahli Gizi, dan tujuan utama menjauhkan Stunting dari anak anak kita.
Seperti tidak jelas informasi mengenai apa penyebab keracunan pada Siswa yang sudah menelan korban hingga 11,000 orang, tapi kemungkinan letak salahnya pada jam memasak atau cara penyimpanan makanan dan distribusi, sehingga menyebabkan makanan menjadi rusak.
Kemudian trouble kedua adalah Ahli Gizi yang jelas memiliki Tanggung Jawab paling tinggi mengenai Gizi makanan yang disiapkan dan bilamana terjadi keracunan, maka yang diminta pertanggung jawaban didalam dapur adalah Ahli Gizi.
Meanwhile beberapa Ahli Gizi yang di hire oleh SPPG bukanlah Ahli Gizi sesungguhnya. Dan lagi mengenai Stunting yang seharusnya Ibu Hamil adalah Penerima Manfaat paling banyak dari 3.500 Penerima Manfaat per satu dapur.
Yang terjadi selama ini adalah Penerima Manfaat justru kebanyakan berada di Sekolah Menengah Atas yang sudah berusia 15 tahun.
Stunting pada usia Remaja bisa terjadi tapi itupun jika si Remaja ini mengalami Gizi Kronis saat masih kanak-kanak dan diperburuk dengan masalah Gizi pada remaja. Sehingga berdasarkan pandangan itu Penerima Manfaat yang paling utama menjadi fokus Dapur dan SPPG adalah Ibu Hamil dan Anak sekolah Paud-TK, SD, SMP.
Dengan demikian, walaupun Prabowo mengatakan keracunan yang terjadi itu masih dipandang dalam batas wajar karena presentasi porsi yang dibagikan masih lebih banyak daripada yang keracunan, saya pribadi merasa pentingnya Analisis SWOT dilakukan oleh SPPG dan Ahli Gizi yang akan memulai pekerjaannya dalam waktu dekat di Kabupaten Buru, agar mampu memberikan Zero Mistake.
Belajar dari masalah yang dapur-dapur lain lakukan dan tidak membiarkan Penerima Manfaat seolah seperti memakan takdirnya, artinya ketika dia memakan MBG dia harus siap keracunan atau tidak, tapi berilah makanan yang memang sudah lulus uji kelayakan makan, artinya memang seharusnya SPPG memiliki Tim khusus untuk mencoba makanan sebelum makanan-makanan itu tiba di hadapan para Penerima Manfaat.(*)




























Discussion about this post